Geografi
Kabupaten Mentawai dibentuk oleh empat pulau : Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, terletak 85-135 km dari Pantai Sumatera Barat, antara 00 550 - 30 200 LS and 980 310 - 1000 400 BT dengan luas daratan ± 7.000 km2 (Siberut 4.480 km2, Sipora 845 km2, Pagai 1.675 km2). Tua Pejat di Pulau Sipora merupakan Ibukota Kabupaten.
Mentawai adalah pulau sedimen yang berlumpur, bertanah liat campur kapur yang usianya relatif muda. Curah hunjan tertinggi terjadi pada bulan April (290 mm) dan Oktober (390 mm) sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Februari (220 mm) dan Juni (220 mm). Proses pengendapan masih terus berlangsung di sepanjang pantai timur termasuk daerah perairan dalam. Proses tersebut ditandai oleh garis pantai yang tidak rata, berteluk, bertanjung, dan berpulau kecil dan berpantai karang. Pantai barat relatif lebih lurus, berpasir lebar, bergelombang besar, sedikit karang dan tidak umum dilayari.
Kehidupan Masyarakat Asli Mentawai
Masyarakat asli Mentawai yang hidup dalam budaya tradisi hanya ada di P.Siberut pedalaman, yakni di desa Madobak, Ugai dan Matotonan.
Untuk ke lokasi ini jalur yang ditempuh biasanya melewati sungai dan jalan setapak, dengan rute Muara Siberut-Rogdog-Madobak-Ugai-Matotonan, kurang lebih 5-8 jam. Wisatawandapat bermalam di Uma sambil menyaksikan kehidupan bersahaja masyarakat asli yang masih menggunakan pakaian khas yang disebut Khabid dan tubuh penuh tato.
Menjelajah Hutan
Tempat paling baik di Mentawai adalah P.Siberut yang alamnya relatif masih asli. Beberapa jalur setapak langsung melewati Taman Nasional Siberut yang fenomenal alamnya luar biasa. Selama di perjalanan dapat disaksikan bermacam satwa liar yang endemik seperti monyet, tupai, musang, tikus, 150 jenis burung termasuk burung hantu, ular, kadal, kura-kura, kodok, katak serta serangga. Demikianpula flora seperti jelutung, Gaharu, Anggrek, Rotan dan Bunga Bangkai.
Penduduk dan Kepercayaan
Tidak terdapat petunjuk kapan orang pertama sampai di Kep.Mentawai, tetapi dari bahasa yang mereka pergunakan, tingkat kebudayaan, dan ciri-ciri fisiknya, nampak bahwa suku Mentawai berasal dari Homo sapiens-sapiens yang paling awal datang ke Indonesia. Para anthropolog menggolongkan mereka ke dalam rumpun “Proto-Malay” berkebudayaan Neolitik, mendapat pengaruh dari Zaman Perunggu, namun bukam oleh Buddhisme, Hinduisme atau Islam.
Pada awalnya penduduk menganut paham animisme yang percaya bahwa segala sesuatu mulai dari manusia hingga kera, batu hingga cuaca, mempunyai roh yang terpisah dari “raganya” serta bebas berkeliaran seperti yang dikehendakinya. Prinsip kepercayaannya adalah keselarasan penciptaan, dengan suatu kekuatan religius dibalik semua hal yang disebut “kina ulau” atau “diluar jangkauan”. Seperti kebanyakan kepercayaan kuno, meeka lebih memusatkan pada berbagai manifestasi penciptaan roh atau jiwa. Roh-roh ada dalam hubungan tetap yang selaras satu sama lain, justru kegiatan manusia sering merusak keselarasan itu. Agar kembali seimbang, mereka melakukan berbagai upacara keagamaan yang di daerah kepulauan bagian selatan disebut dengan “puliaijat” atau “punen”. Selama upacara-upacara berlangsung, penduduk memberikan persembahan kepada roh-roh halus dengan membuat hiasan dan ukiran-ukiran yang indah agar jiwa atau roh tersebut menjadi tenang.
Keindahan Alam pantai dan Laut
Ciri khas Mentawai adalah pantai berpasir putih, pulau-pulau cantik. Terumbu karang ombak laut yang memukau.
Kita akan mudah menemukan terumbu karang di sepanjang pantai timur, selatan dan tenggara. Tempat dimana sangat cocok juga untuk berjemur, berenang, snorking, menyelam. Pantai Masilok diselatan Siberut nampak seperti teluk dipenuhi pohon nyiur. Disebelah baratnya termasuk di Teluk Pokai dan Teluk Katurai, terdapat taman laut yang indah.
Aktivitas lain yang dapat dilakukan mengamati satwa penghuni hutan bakau, seperti ular phyton yang tidak berbisa.
Selancar air paling populer di Mentawai dewasa ini. Dengan ketinggian ombak mencapai 4m dan pecahan gelombang 6 kai banyak diminati peselancar-peselancar dunia dari Australia, Jepang, Amerika, Selandia Baru dan dalam negeri : Bali dan Sumut.
Aksesibilitas
Akses paling mudah ke Mentawai adalah dari padang, ibukota Sumatera Barat. Bandar Udara Internasional Minangkabau setiap harinya disinggahi pesawat Garuda, mandala, Lion, Sriwijaya, Awair dan Batavia Air dari Jakarta, Mandala dari Medan, Garuda dan Silk Air dari Singapore, Air Asia dari Malaysia.
Transportasi menuju Mentawai dilayani oleh KM. Ambu-ambu dengan rute padang-Sipora setiap hari Senin dan Padang-Sikakap setiap hari Rabu dan Jumat. KM. Sumber Rezaki Baru dengan rute Padang-Muara Siberut setiap hari Senin dan Rabu, Padang-Sipora (Rabu) dengan rute Bungus-SIpora (Sabtu). Semua kapal bertolak dari Muara Padang antara jam 18.00 s/d 20.00 Wib.
Setiap kapal regular calon penumpang juga dapat menyewa kapal carteran yang disediakan oleh perusahaan swasta lainnya. Tidak ada kendaraan darat dari Mentawai, khususnya Siberut. Transportasi yang tersedia hanya motor, disewa dengan tariff tergantung pada jarak tempuh.
Lokasi Wisata Selancar















